Rabu, 08 Februari 2012

kupu-kupu yang bebas


Tik..tik..tik..

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.25. Kala itu, udara masih terasa dingin menusuk tulangku. Sahut-menyahut kokok ayam pun tak kalah turut meramaikan suasana yang masih cukup sepi di lingkungan rumahku. “Hemm, hari ini hari jum’at, aku mesti buru-buru. Jika tidak, bisa-bisa aku telat lagi.” gumamku dalam hati.

“Ayah, Bunda, Zahra berangkat. Assalamu’alaikum..” ucapku sambil mencium tangan kedua orang tuaku dengan lembut.

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya, nak.” Pesan ibuku.

Aku hanya tersenyum membalas senyuman hangat ibuku sambil melangkahkan kedua kakiku ke pintu pagar. “Bismillahi tawakaltu alallahi laa haula wa laa kuwata illa billah. Ya Rahman, hamba mohon lindungilah hamba yang lemah ini dan permudahkan segala urusan hamba dalam menuntut ilmu. Aamiin.” Doaku yang Insyaallah tak pernah absen tuk kupanjatkan tiap kali aku pergi. Kemana pun itu. Karna hanya cahaya cintaNya yang sejati yang mampu membimbingku tuk selalu berada dijalanNya..

Ku tatap langit yang masih berwarna gelap. Sang mentari seakan malu dan masih tetap bersembunyi dibalik rengkuhan awan. “Bakalan cerah atau hujan ya?” batinku dalam hati. Beberapa hari belakangan ini, awan mendung yang berkolaborasi dengan hujan, menggantikan posisi mentari. Sekarang aku sedang menuju terminal angkot yang ada di perumahan tempat kutinggal. Dan lagi, jalan masih sepi lengang. Selama di perjalanan, biasanya aku sering tertidur karna masih mengantuk. Kali ini, ada yang lebih menarik perhatianku. Ditanganku sudah ada sebuah buku yang bertemakan tentang cinta. Tentu bukan buku yang berisikan memuja cinta sampai buta, merenungi diri sambil menangis, atau bahkan membuat kita menjadikan cinta bisa menaklukan segalanya. Maksudku, membuat kita tak mampu untuk mengendalikan cinta itu sendiri hingga sampai lupa akan hakikat cinta. Tentu bukan. Buku ini justru lebih mengarahkan kemudi cinta kita agar tetap berlayar menuju pelabuhan kasih sayangNya.

Hingga akhirnya sampai juga aku di jalan menuju tempat sekolahku berada. Sebenarnya banyak jasa ojeg yang bisa mengantarku untuk menuju sekolah lebih cepat. Namun, saat ini masih pagi. Masih ada waktu sekitar 20 menit. Aku tak mau melewatkan pagi ini dengan ‘memanjakan’ kakiku untuk berolahraga. Itung-itung agar tetap sehat dan aku memang sangat suka cuaca pagi. Langit yang biru lembut dipadukan dengan suasana yang masih sejuk. Hhm, sungguh sangat kusukai. Di jalan ini, tak hanya diriku seorang yang menuju sekolah. Juga ada murid-murid lainnya yang satu tujuan denganku. Ada yang tertawa dengan temannya, ada yang sambil sms-an, bahkan ada yang sedang komat-kamit menghafal karna mungkin ada ulangan. Aku sendiri pun hanya memperhatikan. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku sambil menepuk bahuku.

“Zahraaaa..”, katanya sambil tersenyum lebar. Seperti biasa, sahabatku itu selalu berhasil menularkan semangat paginya ke orang-orang yang disapanya.

“Eh, meillia. Bikin kaget aja deh.” Kataku sambil mengelus dada. Sungguh aku sangat kaget dan memang selalu kaget jika ia menyapaku di pagi hari. Tetapi, kaget yang kurasakan tak mampu menutupi senyumku akibat tingkah laku sahabatku ini.

“Kayaknya kamu kaget mulu deh, ra. Aku kan udah biasa teriak-teriak manggil nama kamu tiap pagi. Masa masih aja kaget? Lagi bengong yaa? Pagi-pagi udah bengong..” katanya dengan kepala yang digeleng-gelengkan.

“Siapa yang bengong? Tadi itu aku lagi merhatiin anak-anak itu. Seneng aja ngeliatnya. Ngeliat orang ketawa seperti itu jadi bikin aku ketawa juga.” Kataku sambil menunjuk ke anak-anak yang sedang tertawa.

“Huuu, ngeles aja nih. Hmm, kamu liat darma gak? Tumben nih jam segini aku belum ngeliat dia. Biasanya kan ketemu pas lagi jalan menuju sekolah. Kok sekarang dia gak keliatan ya?” tanya meillia.

“Ooh, jadi tiap hari dateng pagi-pagi bukan karna mau ketemu aku, tapi karna biar bisa ketemu darma? Ternyata..” kataku sambil geleng-geleng kepala.

“Iih, enggak kok, ra. Kamu kayak baru kenal aku aja. Meskipun darma itu cowok yang aku sukain, tapi aku gak segitunya juga kali. Masa sahabatku ini dibandingin sama darma. Yaa aku bakal milih darma laah. Upss. Haha. Bercanda..gak mungkin laah ra, aku kan emang mau ketemu kamu juga. Mau ngasih semangat. Biar kamu juga semangat.” Kata meillia sambil mengepal tangan kanannya ke atas.

“Iya iya, aku juga tau kok. Aku juga cuma bercanda kali, neng. Kamu kayak gak kenal aku aja.” Kataku mengutip ucapan yang barusan juga diucapkan meillia. Kami berdua pun hanya saling tersenyum.

“Hhm lagian ya meil, sekalipun kamu ketemu darma dijalan ini, bukannya kamu cuma bisa ngeliat dia dari belakang? Maksud aku, yaa mukanya darma lagipula ketutupan helm, paling plat nomor ama tasnya doang yang bisa kamu liat. Haha.” Godaku pada sahabatku itu.

“Iiih zahraa, kamu gimana sih kayak gak pernah suka ama cowok aja. Meskipun cuma bisa ngeliat tas dan si dia dari belakang, itu udah bikin deg-deg an banget. Trus ditambah lagi efek semangat. Memberikan semangat yang lain dari yang lain dan beda dari yang biasanya,” katanya dengan suara yang dibuat melankolis.

“Iya deh iya,” kataku agar meillia tak meneruskan ucapannya yang menurutku agak dramatis itu.

Sungguh, bila berjalan sendiri lebih terasa lama dibandingkan bersama teman. Tak terasa sampai juga aku dan meillia di gerbang sekolah. Seperti biasa, guru-guru sudah ada di dekat pos satpam untuk ‘menyambut’ murid-muridnya. Ini sangat kusuka karna dengan ‘ritual’ ini memberikan efek tersendiri pada diriku, terlebih ketika guru-guru yang kucium tangannya tersenyum padaku. Menambah semangat belajar.
Kami pun menuju kelas biologi di lantai 2. Sekolahku terdiri dari 3 lantai dan menggunakan sistem class moving. Pelajaran pertamaku hari ini adalah biologi. Aku sangat suka biologi. Lain halnya dengan meillia yang justru lebih menyukai fisika dibanding biologi. “Aku ngantuk banget nih tiap pelajaran biologi. Harusnya tuh langsung ke objeknya aja diluar kelas, jangan dibahas kayak gini. Bikin ngantuk. Mendingan fisika kemana-mana deh.” Katanya suatu hari.

Seperti biasa tiap hari jum’at disekolahku selalu mengadakan tadarus bersama di tiap-tiap kelas. Masing-masing kelas ada koordinatornya tersendiri. Kurang lebih 30 menit waktu yang diberikan untuk tadarus sebelum jam pertama dimulai. Kali ini koordinator dikelasku adalah kak Furqon. Tak kupungkiri, hal ini meberi kejutan tersendiri untukku. Biasanya yang memegang kelas kami adalah kak Ahmad, namun kali ini kak Furqon.

“Waaah, kelas kita kebagian kak furqon yang mimpin tadarus. Pasti kelas lain pada ngiri. Jarang-jarang looh kak furqon dikelas kita. Eeh bukan jarang lagi, kayaknya sebelumnya gak pernah deh.” Ucap meillia padaku. Aku pun hanya mengangguk.

“Hhm, kak furqon itu entah kenapa gak bosen ya kalo diliatin terus. Manisnya gimana gitu..tenang, kalem, berwibawa. Trus bacaan tilawahnya juga bagus. Ini mah tipe ideman banget deh. Iyaa gak, ra?” katanya sambil menyikut pinggangku. Lagi, tanpa bicara, aku hanya tersenyum.

“Iiih zahra, jangan cuma senyum ngangguk senyum ngangguk aja doong. Bilang apa kek, ‘iya ya meil, idaman banget deh kakak itu’. Gitu kek, ra. Berasa ngomong sendiri nih.” Kata meillia dengan suara keras yang tak disadarinya bahwa semua orang yang ada dikelas menengok padanya. Termasuk kak furqon.

“Eeh, maaf-maaf. Ini gak sengaja ngomong kenceng. Lagi semangat cerita ke zahra.” Katanya dengan muka bak kepiting rebus pada teman-teman dikelas.
Aku pun hanya tertawa pelan. “baik, meil?” kataku mengejek.

“Haduh, aku malu banget nih. Masa pertama kali kak furqon disini aku udah malu-maluin banget. Haduuh, meillia. Bikin malu aja deh.” Katanya pada diri sendiri.

Tak terasa 30 menit telah berlalu. Diakhir tadarus, kak furqon pun menutupnya dengan kultum. Ia pun mengucapkan salam lalu meninggalkan kelas. Begitu kak furqon keluar kelas, serempak teman-teman perempuan dikelasku menggumamkan, “waah Subhanallah banget ya kak furqon itu. Haduh, makin suka aja nih jadinya.” Bahkan ada juga yang berkata,”seandainya aku disuruh nunggu dia ampe lulus SMA, bahkan lulus kuliah, aku mau deh. Aku akan setia menunggunya.”

“Huuuuu..” kata teman-teman ku dikelas serempak.

“Pertanyaannya, kak furqon mau gak di tungguin ama lu.” Celetuk Dika, teman sekelasku. tak ayal, tawa anak sekelas pun pecah.

“Temen-temen, kita kayaknya hari ini gak belajar efektif deh. Soalnya guru-guru ada rapat katanya. Tapi tolong ya, dikelas aja jangan kemana-mana dulu. Takutnya nanti ada guru yang masuk.” Kata ketua kelasku. Ia bernama Fatih.

“Okee, boss.” Sahut anak-anak sekelas.

“Ehh tapi kalo keluar kelas depan pintu, boleh gak? Udaranya masih sejuk tuh. Enakkan diluar. Gak sumpek.” Tanya meillia pada fatih.

“Asal jangan ke kantin aja ya.” Ejek fatih pada meillia. Fatih tau bawah meillia memang selalu ke kantin jika jam pelajaran kosong.

“Iya, iya. Cuma diluar aja kok. Nih saksinya si zahra. Percaya kan kalo ada zahra?” ucap meillia sambil merangkul bahuku.

“Ooh, oke.” Kata fatih singkat.

Aku, meiliia, dan beberapa teman yang lain pun menuju keluar kelas. Kami saling bercerita sambil berdiri dan menghadap lapangan. Tiba-tiba, meillia menarik lenganku dan mengajakku agak menjauh dari teman-teman yang lain. Karna semua memang sedang asyik bercerita, jadi perubahan gerakan aku dan meillia tidak terlalu diperhatikan.

“Ada apa, meil? Mau ngomongin darma ya? Tuh darma.” Kataku sambil menunjuk ke lapangan.

“Hah? Mana darma? Oiya, ngapain ya dia disitu. Ooh, dia kan olahraga pelajaran pertama.” Jawab meillia.

“Jangan bilang kamu hafal semua jadwal mata pelajaran darma tiap harinya ya?” kataku ambil geleng-geleng kepala.

“Hehe. Iya aku hafal. Harus itu ra, biar kalo kita pergantian kelas dan mungkin ruangan kita sebelahan sama kelasnya darma, kita kan bisa papasan deh. Lumayan merefresh otak dan mata tuk pelajaran selanjutnya. Sistem sekolah yang ada, bisa dijadikan sarana untuk menggapai tujuan looh. Haha.”

“Huuu dasar. Jadwal mata pelajaran kelasnya darma aja hafal. Tapi kelas sendiri gak hafal. Kalo fatih tau..” kataku menggantung.

“Kalo fatih tau? Apa, ra? Gak boleh setengah-setengah kalo ngomong. Hayoo apa?”

“Yaa kalo fatih tau, yaa gak kenapa-napa.” Kataku dengan senyum mengejek.

“Kirain apaan. Oiya, jadi lupa kan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Sebelumnya aku minta maaf ya kalo agak lancang. Aku cuma mau tau aja, ra.” Izinnya.

“Hhm, tentang apa, meil? Bilang aja, Insyaallah aku gak akan marah kok.”

“Zahra, kamu kan udah aku anggep sebagai sahabat. Selama ini, kamu terus yang dengerin cerita aku. Entah itu tentang keluarga aku, tentang temen-temen sekolah yang gak aku suka, tentang masalah aku, bahkan tentang darma yang mungkin kamu bosen banget dengernya. Aku ngerasa gak enak sama kamu, ra. Aku teruuus yang cerita. Sekarang mumpung juga lagi jam kosong, aku bersedia kok dengerin semua cerita kamu.”

“Wah, ada apa ini? Kenapa suasananya jadi kayak gini sih, meil? Justru kalo kamu kayak gini, aku ngerasanya kamu yang lagi ada masalah dan mau cerita ke aku. Hehe.”

“Iih zahra, aku seriusan. Aku ngerasa aku kayak gak tau apa-apa tentang kamu. Yaa kamu pernah cerita sih tentang keluarga kamu, adik-adik kamu, masalah kamu. Tapi, aku ngerasa ada yang kurang. Hhmm, gimana ya aku ngomongnya. Jangan marah ya?”

“Aduuh, ada apa sih, meil? Gak biasanya kamu kayak gini. Emang mau nanya apa? Insyaallah aku gak akan marah kok.” kataku sambil tersenyum meyakinkan.

“Zahra, sebenernya ada gak sih cowok yang kamu suka? Hhm, enggak deng bukan cowok. Aku ralat. Ada gak sih ikhwan yang kamu suka? Sampe sekarang, aku gak tau apa-apa tentang yang satu itu.”

Jujur saja, pertanyaan meillia itu membuatku kaget. Sahabatku ini selalu punya kejutan tersendiri untukku. Meskipun terkadang dia jarang izin tuk berbicara atau menanyakan sesuatu, namun kali ini meillia sangat hati-hati. Tentu ini salah satu yang kusukai dari meillia. Ia selalu apa adanya dan ‘mengerti’ aku. Ia tau jika aku tak mau menceritakan sesuatu, itu pasti karna menurutku sangat pribadi. Dan meillia tau. Untuk itu ia sangat berhati-hati untuk menanyakan perihal ini.

“Ooh itu. Hemm, gimana ya.. jangan-jangan kamu nanyain ini karna kamu ragu ya aku normal atau enggak? Tenang-tenang, aku masih normal kok. Tapi kalo disuruh milih seorang perempuan, kayaknya aku milih kamu deh, meil. Haha.”

“Enggak kok, aku gak bermaksud kayak gitu. Bukan masalah meragukan atau enggak, aku cuma mau tau aja, ra. Aku ngerasa kita gak impas. Kamu selalu dengerin aku. Tapi sebaliknya, aku jarang banget dengerin kamu.”

Meillia beneran serius menanyakan ini. Tak pernah sebelumnya meillia memasang raut wajah seperti ini ketika berbicara kepadaku. Apa yang harus kukatakan padanya? Jika ku bilang ada, ia pasti akan terus memancing aku tuk memberi deskripsi ikhwan itu dengan jelas. Entah itu kelasnya, ekskulnya apa, segala tentang ikwan itu hingga meillia akhirnya mengetahui namanya. Bukan ku tak percaya padamu, meil. Tapi sungguh, untuk yang satu ini aku rasa cukup aku dan Yang Maha Tahu saja yang menyimpan perihal ini. Aku sangat malu untuk menceritakannya.

“Ooh masalah itu. Yang aku suka? Karna tadi aku bilang kalo aku normal, berarti jawabannya ada. Hehe.”

“Siapa, ra? Anak kelas mana? Ekskulnya apa? Cerita doong ke aku. Siapa tau aja aku punya info tentang dia.”

“Hmm...”

“Hmm apanya, ra? Ayo doong cerita.”

“Hmmm..”

“Iiih zahra, aku bilang fatih nih kamu cuma jawab ‘hmm, hmm..’. jawaban apa itu?”

“Kenapa ngadunya ke fatih?”

“Abisan kamu bukannya jawab malah ngegumam. Aku pernah looh pas ditanya fatih trus aku cuma bergumam, ehh malah diomelin ama dia.”

“Haha. Lagian ditanya orang kok malah bergumam. Kamu juga sih.”

“Laah, kamu juga ini aku tanya malah kayak aku pas jawab pertanyaan fatih. Sama aja toh kita? Siapa sih, ra? Kak furqon? Kak rama? Kak ahmad? Bimo? Ooh jangan-jangan darma yaa?”

“Eeh enak aja. Aku gak suka ama darma tau. Itu mah kamu. Lagipula kalo aku suka sama darma, apa yang akan kamu lakuin?” ejekku.

“Hehe. Jangan darma ya, yang lain aja..” melas meiliia.

“Kawan, pada masuk ke dalem kelas yuk sekarang. Bu trisha mau masuk kelas kita. Sejam pelajaran Insyaallah cuma 25 menit kok. Kayaknya sih kita bakalan pulang cepet. Ayo ayo masuk.” Kata fatih.

Yang lain pun langsung melaksanakan perintah fatih. Ketika aku juga menuju ke dalam kelas, tiba-tiba meillia berkata, “Ooh aku lupa. Yang kamu sukain, fatih yaa?”

Aku hanya terdiam dengan ekspresi yang datar. Siapapun nama-nama yang diucapkan meillia, aku tak ingin membenarkannya maupun menolaknya. Sungguh, untuk yang satu ini cukup Yang Maha Lembut saja yang tau isi hatiku.

Karna sejam pelajaran hanya 25 menit, tentu ini sangat cepat. Hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi. Disekolahku, tak hanya ada program tadarus bersama, tapi juga ada keputrian untuk muslimah disekolahku. Fatih pun memimpin doa dan salam sebelum kelas dibubarkan.

“Yang merasa muslim, ayo ke mesjid buat shalat jum’at.” Ajak fatih ke anak laki-laki dikelasku.

“Yang merasa muslimah, ayo kita ke kelas agama buat keputrian.” Ucap meillia tak mau kalah dengan fatih.

Aku, meillia, bersama seluruh muslimah yang ada dikelasku pun menuju kelas agama islam. Seperti biasa, keputrian kali ini dikoordinir oleh kak icha. Setelah kelas sudah mulai penuh, semua muslimah yang ada, diminta untuk tenang karna keputrian akan dimulai.

“Assalamu’alaikum, adek-adekku yang cantik.” Kata kak icha memulai keputrian kali ini.

“Wa’alaikumsalam, kak..” jawab kami serempak.

“Sebelum dimulai, ada baiknya kita membaca ta’awudz, basmallah, dan shalawat nabi.”

Gemuruh doa pun serempak keluar dari mulut-mulut kami.

“Alhamdulillah kita bisa ketemu lagi kali ini di acara rutin kita. Naah, kali ini materinya adalah tentang VMJ. Udah pada tau kan apa itu VMJ? Atau jangan-jangan semua yang ada disini lagi pada kena virusnya yaa?”

Semua langsung heboh. Ada yang senyam-senyum sendiri. Ada yang langsung heboh dengan temannya. Bahkan ada yang berteriak, “sayaaa, kaak.” Meillia pun tak mau ketinggalan. Ia membisikkan nama ‘darma’ di telingaku.

“Waduh waduh, heboh banget niih. Pada semangat ya ikut keputrian? Atau semangat karna materinya?”

“Dua-dua nya, kak..”

“Haha. Ya udah kita lanjutin ya. Materi vmj ini diambil dari sebuah majalah islami. Kakak akan bacain materi ini, tapi pada dengerin yaaa.” Kata kak icha sambil tersenyum.

Kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga paragraf pada majalah itu pun dibacakan oleh kak icha. Sungguh aku kagum pada penulisnya. Kata-kata yang dirangkai sangat indah dan memberi kesan pada hati. Terkadang kata-katanya membimbing tanpa menggurui. Yang sangat kuingat dan kusukai dari kata-kata indah yang ada adalah cinta ibarat kupu-kupu. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Namun, apabila kau biarkan ia terbang bebas, ia akan menghampirimu dalam waktu yang tak kau duga-duga. Untuk itu, tenanglah..jangan terburu-buru. Hingga kau bisa memilih yang terbaik.

Yaa, aku sangat suka dan setuju akan hal itu. Cukup Yang Maha Pengasih yang tau semua ini. Biarlah aku saja yang menyimpannya tanpa harus berbagi. Aku ingin kisahku seperti Fatimah, putri Rasulullah, dengan Ali. Aku ingin  perahu perasaanku ini kelak kan terus melaju menuju pelabuhan kasih sayangNya. Biarlah kami menempuh jalan kami masing-masing. Semoga dia selau sehat dan selalu dalam lindunganNya. Hingga akhirnya, cinta bisa bersujud di mihrab taat..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar