Tik..tik..tik..
Jarum
jam sudah menunjukkan pukul 05.25. Kala itu, udara masih terasa dingin menusuk
tulangku. Sahut-menyahut kokok ayam pun tak kalah turut meramaikan suasana yang
masih cukup sepi di lingkungan rumahku. “Hemm, hari ini hari jum’at, aku mesti
buru-buru. Jika tidak, bisa-bisa aku telat lagi.” gumamku dalam hati.
“Ayah,
Bunda, Zahra berangkat. Assalamu’alaikum..” ucapku sambil mencium tangan kedua
orang tuaku dengan lembut.
“Wa’alaikumsalam.
Hati-hati di jalan ya, nak.” Pesan ibuku.
Aku
hanya tersenyum membalas senyuman hangat ibuku sambil melangkahkan kedua kakiku
ke pintu pagar. “Bismillahi tawakaltu alallahi laa haula wa laa kuwata illa
billah. Ya Rahman, hamba mohon lindungilah hamba yang lemah ini dan permudahkan
segala urusan hamba dalam menuntut ilmu. Aamiin.” Doaku yang Insyaallah tak
pernah absen tuk kupanjatkan tiap kali aku pergi. Kemana pun itu. Karna hanya
cahaya cintaNya yang sejati yang mampu membimbingku tuk selalu berada
dijalanNya..
Ku
tatap langit yang masih berwarna gelap. Sang mentari seakan malu dan masih
tetap bersembunyi dibalik rengkuhan awan. “Bakalan cerah atau hujan ya?”
batinku dalam hati. Beberapa hari belakangan ini, awan mendung yang
berkolaborasi dengan hujan, menggantikan posisi mentari. Sekarang aku sedang menuju
terminal angkot yang ada di perumahan tempat kutinggal. Dan lagi, jalan masih
sepi lengang. Selama di perjalanan, biasanya aku sering tertidur karna masih
mengantuk. Kali ini, ada yang lebih menarik perhatianku. Ditanganku sudah ada
sebuah buku yang bertemakan tentang cinta. Tentu bukan buku yang berisikan
memuja cinta sampai buta, merenungi diri sambil menangis, atau bahkan membuat
kita menjadikan cinta bisa menaklukan segalanya. Maksudku, membuat kita tak
mampu untuk mengendalikan cinta itu sendiri hingga sampai lupa akan hakikat
cinta. Tentu bukan. Buku ini justru lebih mengarahkan kemudi cinta kita agar
tetap berlayar menuju pelabuhan kasih sayangNya.
Hingga
akhirnya sampai juga aku di jalan menuju tempat sekolahku berada. Sebenarnya
banyak jasa ojeg yang bisa mengantarku untuk menuju sekolah lebih cepat. Namun,
saat ini masih pagi. Masih ada waktu sekitar 20 menit. Aku tak mau melewatkan
pagi ini dengan ‘memanjakan’ kakiku untuk berolahraga. Itung-itung agar tetap
sehat dan aku memang sangat suka cuaca pagi. Langit yang biru lembut dipadukan
dengan suasana yang masih sejuk. Hhm, sungguh sangat kusukai. Di jalan ini, tak
hanya diriku seorang yang menuju sekolah. Juga ada murid-murid lainnya yang
satu tujuan denganku. Ada yang tertawa dengan temannya, ada yang sambil sms-an,
bahkan ada yang sedang komat-kamit menghafal karna mungkin ada ulangan. Aku
sendiri pun hanya memperhatikan. Tiba-tiba ada yang memanggil namaku sambil
menepuk bahuku.
“Zahraaaa..”,
katanya sambil tersenyum lebar. Seperti biasa, sahabatku itu selalu berhasil menularkan
semangat paginya ke orang-orang yang disapanya.
“Eh,
meillia. Bikin kaget aja deh.” Kataku sambil mengelus dada. Sungguh aku sangat
kaget dan memang selalu kaget jika ia menyapaku di pagi hari. Tetapi, kaget
yang kurasakan tak mampu menutupi senyumku akibat tingkah laku sahabatku ini.
“Kayaknya
kamu kaget mulu deh, ra. Aku kan udah biasa teriak-teriak manggil nama kamu
tiap pagi. Masa masih aja kaget? Lagi bengong yaa? Pagi-pagi udah bengong..” katanya
dengan kepala yang digeleng-gelengkan.
“Siapa
yang bengong? Tadi itu aku lagi merhatiin anak-anak itu. Seneng aja ngeliatnya.
Ngeliat orang ketawa seperti itu jadi bikin aku ketawa juga.” Kataku sambil
menunjuk ke anak-anak yang sedang tertawa.
“Huuu,
ngeles aja nih. Hmm, kamu liat darma gak? Tumben nih jam segini aku belum
ngeliat dia. Biasanya kan ketemu pas lagi jalan menuju sekolah. Kok sekarang
dia gak keliatan ya?” tanya meillia.
“Ooh,
jadi tiap hari dateng pagi-pagi bukan karna mau ketemu aku, tapi karna biar
bisa ketemu darma? Ternyata..” kataku sambil geleng-geleng kepala.
“Iih,
enggak kok, ra. Kamu kayak baru kenal aku aja. Meskipun darma itu cowok yang
aku sukain, tapi aku gak segitunya juga kali. Masa sahabatku ini dibandingin
sama darma. Yaa aku bakal milih darma laah. Upss. Haha. Bercanda..gak mungkin
laah ra, aku kan emang mau ketemu kamu juga. Mau ngasih semangat. Biar kamu
juga semangat.” Kata meillia sambil mengepal tangan kanannya ke atas.
“Iya
iya, aku juga tau kok. Aku juga cuma bercanda kali, neng. Kamu kayak gak kenal
aku aja.” Kataku mengutip ucapan yang barusan juga diucapkan meillia. Kami
berdua pun hanya saling tersenyum.
“Hhm
lagian ya meil, sekalipun kamu ketemu darma dijalan ini, bukannya kamu cuma
bisa ngeliat dia dari belakang? Maksud aku, yaa mukanya darma lagipula
ketutupan helm, paling plat nomor ama tasnya doang yang bisa kamu liat. Haha.”
Godaku pada sahabatku itu.
“Iiih
zahraa, kamu gimana sih kayak gak pernah suka ama cowok aja. Meskipun cuma bisa
ngeliat tas dan si dia dari belakang, itu udah bikin deg-deg an banget. Trus
ditambah lagi efek semangat. Memberikan semangat yang lain dari yang lain dan
beda dari yang biasanya,” katanya dengan suara yang dibuat melankolis.
“Iya
deh iya,” kataku agar meillia tak meneruskan ucapannya yang menurutku agak
dramatis itu.
Sungguh,
bila berjalan sendiri lebih terasa lama dibandingkan bersama teman. Tak terasa
sampai juga aku dan meillia di gerbang sekolah. Seperti biasa, guru-guru sudah
ada di dekat pos satpam untuk ‘menyambut’ murid-muridnya. Ini sangat kusuka
karna dengan ‘ritual’ ini memberikan efek tersendiri pada diriku, terlebih
ketika guru-guru yang kucium tangannya tersenyum padaku. Menambah semangat
belajar.
Kami
pun menuju kelas biologi di lantai 2. Sekolahku terdiri dari 3 lantai dan
menggunakan sistem class moving. Pelajaran pertamaku hari ini adalah biologi.
Aku sangat suka biologi. Lain halnya dengan meillia yang justru lebih menyukai
fisika dibanding biologi. “Aku ngantuk banget nih tiap pelajaran biologi.
Harusnya tuh langsung ke objeknya aja diluar kelas, jangan dibahas kayak gini.
Bikin ngantuk. Mendingan fisika kemana-mana deh.” Katanya suatu hari.
Seperti
biasa tiap hari jum’at disekolahku selalu mengadakan tadarus bersama di
tiap-tiap kelas. Masing-masing kelas ada koordinatornya tersendiri. Kurang
lebih 30 menit waktu yang diberikan untuk tadarus sebelum jam pertama dimulai.
Kali ini koordinator dikelasku adalah kak Furqon. Tak kupungkiri, hal ini
meberi kejutan tersendiri untukku. Biasanya yang memegang kelas kami adalah kak
Ahmad, namun kali ini kak Furqon.
“Waaah,
kelas kita kebagian kak furqon yang mimpin tadarus. Pasti kelas lain pada
ngiri. Jarang-jarang looh kak furqon dikelas kita. Eeh bukan jarang lagi,
kayaknya sebelumnya gak pernah deh.” Ucap meillia padaku. Aku pun hanya
mengangguk.
“Hhm,
kak furqon itu entah kenapa gak bosen ya kalo diliatin terus. Manisnya gimana
gitu..tenang, kalem, berwibawa. Trus bacaan tilawahnya juga bagus. Ini mah tipe
ideman banget deh. Iyaa gak, ra?” katanya sambil menyikut pinggangku. Lagi,
tanpa bicara, aku hanya tersenyum.
“Iiih
zahra, jangan cuma senyum ngangguk senyum ngangguk aja doong. Bilang apa kek,
‘iya ya meil, idaman banget deh kakak itu’. Gitu kek, ra. Berasa ngomong
sendiri nih.” Kata meillia dengan suara keras yang tak disadarinya bahwa semua
orang yang ada dikelas menengok padanya. Termasuk kak furqon.
“Eeh,
maaf-maaf. Ini gak sengaja ngomong kenceng. Lagi semangat cerita ke zahra.”
Katanya dengan muka bak kepiting rebus pada teman-teman dikelas.
Aku
pun hanya tertawa pelan. “baik, meil?” kataku mengejek.
“Haduh,
aku malu banget nih. Masa pertama kali kak furqon disini aku udah malu-maluin
banget. Haduuh, meillia. Bikin malu aja deh.” Katanya pada diri sendiri.
Tak
terasa 30 menit telah berlalu. Diakhir tadarus, kak furqon pun menutupnya
dengan kultum. Ia pun mengucapkan salam lalu meninggalkan kelas. Begitu kak
furqon keluar kelas, serempak teman-teman perempuan dikelasku menggumamkan,
“waah Subhanallah banget ya kak furqon itu. Haduh, makin suka aja nih jadinya.”
Bahkan ada juga yang berkata,”seandainya aku disuruh nunggu dia ampe lulus SMA,
bahkan lulus kuliah, aku mau deh. Aku akan setia menunggunya.”
“Huuuuu..”
kata teman-teman ku dikelas serempak.
“Pertanyaannya,
kak furqon mau gak di tungguin ama lu.” Celetuk Dika, teman sekelasku. tak
ayal, tawa anak sekelas pun pecah.
“Temen-temen,
kita kayaknya hari ini gak belajar efektif deh. Soalnya guru-guru ada rapat
katanya. Tapi tolong ya, dikelas aja jangan kemana-mana dulu. Takutnya nanti
ada guru yang masuk.” Kata ketua kelasku. Ia bernama Fatih.
“Okee,
boss.” Sahut anak-anak sekelas.
“Ehh
tapi kalo keluar kelas depan pintu, boleh gak? Udaranya masih sejuk tuh.
Enakkan diluar. Gak sumpek.” Tanya meillia pada fatih.
“Asal
jangan ke kantin aja ya.” Ejek fatih pada meillia. Fatih tau bawah meillia
memang selalu ke kantin jika jam pelajaran kosong.
“Iya,
iya. Cuma diluar aja kok. Nih saksinya si zahra. Percaya kan kalo ada zahra?”
ucap meillia sambil merangkul bahuku.
“Ooh,
oke.” Kata fatih singkat.
Aku,
meiliia, dan beberapa teman yang lain pun menuju keluar kelas. Kami saling
bercerita sambil berdiri dan menghadap lapangan. Tiba-tiba, meillia menarik
lenganku dan mengajakku agak menjauh dari teman-teman yang lain. Karna semua
memang sedang asyik bercerita, jadi perubahan gerakan aku dan meillia tidak
terlalu diperhatikan.
“Ada
apa, meil? Mau ngomongin darma ya? Tuh darma.” Kataku sambil menunjuk ke
lapangan.
“Hah?
Mana darma? Oiya, ngapain ya dia disitu. Ooh, dia kan olahraga pelajaran
pertama.” Jawab meillia.
“Jangan
bilang kamu hafal semua jadwal mata pelajaran darma tiap harinya ya?” kataku
ambil geleng-geleng kepala.
“Hehe.
Iya aku hafal. Harus itu ra, biar kalo kita pergantian kelas dan mungkin
ruangan kita sebelahan sama kelasnya darma, kita kan bisa papasan deh. Lumayan
merefresh otak dan mata tuk pelajaran selanjutnya. Sistem sekolah yang ada,
bisa dijadikan sarana untuk menggapai tujuan looh. Haha.”
“Huuu
dasar. Jadwal mata pelajaran kelasnya darma aja hafal. Tapi kelas sendiri gak
hafal. Kalo fatih tau..” kataku menggantung.
“Kalo
fatih tau? Apa, ra? Gak boleh setengah-setengah kalo ngomong. Hayoo apa?”
“Yaa
kalo fatih tau, yaa gak kenapa-napa.” Kataku dengan senyum mengejek.
“Kirain
apaan. Oiya, jadi lupa kan. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Sebelumnya aku
minta maaf ya kalo agak lancang. Aku cuma mau tau aja, ra.” Izinnya.
“Hhm,
tentang apa, meil? Bilang aja, Insyaallah aku gak akan marah kok.”
“Zahra,
kamu kan udah aku anggep sebagai sahabat. Selama ini, kamu terus yang dengerin
cerita aku. Entah itu tentang keluarga aku, tentang temen-temen sekolah yang
gak aku suka, tentang masalah aku, bahkan tentang darma yang mungkin kamu bosen
banget dengernya. Aku ngerasa gak enak sama kamu, ra. Aku teruuus yang cerita.
Sekarang mumpung juga lagi jam kosong, aku bersedia kok dengerin semua cerita
kamu.”
“Wah,
ada apa ini? Kenapa suasananya jadi kayak gini sih, meil? Justru kalo kamu
kayak gini, aku ngerasanya kamu yang lagi ada masalah dan mau cerita ke aku.
Hehe.”
“Iih
zahra, aku seriusan. Aku ngerasa aku kayak gak tau apa-apa tentang kamu. Yaa
kamu pernah cerita sih tentang keluarga kamu, adik-adik kamu, masalah kamu.
Tapi, aku ngerasa ada yang kurang. Hhmm, gimana ya aku ngomongnya. Jangan marah
ya?”
“Aduuh,
ada apa sih, meil? Gak biasanya kamu kayak gini. Emang mau nanya apa?
Insyaallah aku gak akan marah kok.” kataku sambil tersenyum meyakinkan.
“Zahra,
sebenernya ada gak sih cowok yang kamu suka? Hhm, enggak deng bukan cowok. Aku
ralat. Ada gak sih ikhwan yang kamu suka? Sampe sekarang, aku gak tau apa-apa
tentang yang satu itu.”
Jujur
saja, pertanyaan meillia itu membuatku kaget. Sahabatku ini selalu punya
kejutan tersendiri untukku. Meskipun terkadang dia jarang izin tuk berbicara
atau menanyakan sesuatu, namun kali ini meillia sangat hati-hati. Tentu ini
salah satu yang kusukai dari meillia. Ia selalu apa adanya dan ‘mengerti’ aku.
Ia tau jika aku tak mau menceritakan sesuatu, itu pasti karna menurutku sangat
pribadi. Dan meillia tau. Untuk itu ia sangat berhati-hati untuk menanyakan
perihal ini.
“Ooh
itu. Hemm, gimana ya.. jangan-jangan kamu nanyain ini karna kamu ragu ya aku
normal atau enggak? Tenang-tenang, aku masih normal kok. Tapi kalo disuruh
milih seorang perempuan, kayaknya aku milih kamu deh, meil. Haha.”
“Enggak
kok, aku gak bermaksud kayak gitu. Bukan masalah meragukan atau enggak, aku cuma
mau tau aja, ra. Aku ngerasa kita gak impas. Kamu selalu dengerin aku. Tapi
sebaliknya, aku jarang banget dengerin kamu.”
Meillia
beneran serius menanyakan ini. Tak pernah sebelumnya meillia memasang raut
wajah seperti ini ketika berbicara kepadaku. Apa yang harus kukatakan padanya? Jika ku bilang ada, ia pasti akan
terus memancing aku tuk memberi deskripsi ikhwan itu dengan jelas. Entah itu
kelasnya, ekskulnya apa, segala tentang ikwan itu hingga meillia akhirnya
mengetahui namanya. Bukan ku tak percaya padamu, meil. Tapi sungguh, untuk yang
satu ini aku rasa cukup aku dan Yang Maha Tahu saja yang menyimpan perihal ini.
Aku sangat malu untuk menceritakannya.
“Ooh
masalah itu. Yang aku suka? Karna tadi aku bilang kalo aku normal, berarti
jawabannya ada. Hehe.”
“Siapa,
ra? Anak kelas mana? Ekskulnya apa? Cerita doong ke aku. Siapa tau aja aku
punya info tentang dia.”
“Hmm...”
“Hmm
apanya, ra? Ayo doong cerita.”
“Hmmm..”
“Iiih
zahra, aku bilang fatih nih kamu cuma jawab ‘hmm, hmm..’. jawaban apa itu?”
“Kenapa
ngadunya ke fatih?”
“Abisan
kamu bukannya jawab malah ngegumam. Aku pernah looh pas ditanya fatih trus aku cuma
bergumam, ehh malah diomelin ama dia.”
“Haha.
Lagian ditanya orang kok malah bergumam. Kamu juga sih.”
“Laah,
kamu juga ini aku tanya malah kayak aku pas jawab pertanyaan fatih. Sama aja
toh kita? Siapa sih, ra? Kak furqon? Kak rama? Kak ahmad? Bimo? Ooh
jangan-jangan darma yaa?”
“Eeh
enak aja. Aku gak suka ama darma tau. Itu mah kamu. Lagipula kalo aku suka sama
darma, apa yang akan kamu lakuin?” ejekku.
“Hehe.
Jangan darma ya, yang lain aja..” melas meiliia.
“Kawan,
pada masuk ke dalem kelas yuk sekarang. Bu trisha mau masuk kelas kita. Sejam
pelajaran Insyaallah cuma 25 menit kok. Kayaknya sih kita bakalan pulang cepet.
Ayo ayo masuk.” Kata fatih.
Yang
lain pun langsung melaksanakan perintah fatih. Ketika aku juga menuju ke dalam
kelas, tiba-tiba meillia berkata, “Ooh aku lupa. Yang kamu sukain, fatih yaa?”
Aku
hanya terdiam dengan ekspresi yang datar. Siapapun nama-nama yang diucapkan
meillia, aku tak ingin membenarkannya maupun menolaknya. Sungguh, untuk yang
satu ini cukup Yang Maha Lembut saja yang tau isi hatiku.
Karna
sejam pelajaran hanya 25 menit, tentu ini sangat cepat. Hingga akhirnya bel
pulang pun berbunyi. Disekolahku, tak hanya ada program tadarus bersama, tapi
juga ada keputrian untuk muslimah disekolahku. Fatih pun memimpin doa dan salam
sebelum kelas dibubarkan.
“Yang
merasa muslim, ayo ke mesjid buat shalat jum’at.” Ajak fatih ke anak laki-laki
dikelasku.
“Yang
merasa muslimah, ayo kita ke kelas agama buat keputrian.” Ucap meillia tak mau
kalah dengan fatih.
Aku,
meillia, bersama seluruh muslimah yang ada dikelasku pun menuju kelas agama
islam. Seperti biasa, keputrian kali ini dikoordinir oleh kak icha. Setelah
kelas sudah mulai penuh, semua muslimah yang ada, diminta untuk tenang karna
keputrian akan dimulai.
“Assalamu’alaikum,
adek-adekku yang cantik.” Kata kak icha memulai keputrian kali ini.
“Wa’alaikumsalam,
kak..” jawab kami serempak.
“Sebelum
dimulai, ada baiknya kita membaca ta’awudz, basmallah, dan shalawat nabi.”
Gemuruh
doa pun serempak keluar dari mulut-mulut kami.
“Alhamdulillah
kita bisa ketemu lagi kali ini di acara rutin kita. Naah, kali ini materinya
adalah tentang VMJ. Udah pada tau kan apa itu VMJ? Atau jangan-jangan semua
yang ada disini lagi pada kena virusnya yaa?”
Semua
langsung heboh. Ada yang senyam-senyum sendiri. Ada yang langsung heboh dengan
temannya. Bahkan ada yang berteriak, “sayaaa, kaak.” Meillia pun tak mau
ketinggalan. Ia membisikkan nama ‘darma’ di telingaku.
“Waduh
waduh, heboh banget niih. Pada semangat ya ikut keputrian? Atau semangat karna
materinya?”
“Dua-dua
nya, kak..”
“Haha.
Ya udah kita lanjutin ya. Materi vmj ini diambil dari sebuah majalah islami. Kakak
akan bacain materi ini, tapi pada dengerin yaaa.” Kata kak icha sambil
tersenyum.
Kata demi
kata, kalimat demi kalimat, hingga paragraf pada majalah itu pun dibacakan oleh
kak icha. Sungguh aku kagum pada penulisnya. Kata-kata yang dirangkai sangat
indah dan memberi kesan pada hati. Terkadang kata-katanya membimbing tanpa
menggurui. Yang sangat kuingat dan kusukai dari kata-kata indah yang ada adalah
cinta ibarat kupu-kupu. Makin kau kejar,
makin ia menghindar. Namun, apabila kau biarkan ia terbang bebas, ia akan
menghampirimu dalam waktu yang tak kau duga-duga. Untuk itu, tenanglah..jangan
terburu-buru. Hingga kau bisa memilih yang terbaik.
Yaa,
aku sangat suka dan setuju akan hal itu. Cukup Yang Maha Pengasih yang tau
semua ini. Biarlah aku saja yang menyimpannya tanpa harus berbagi. Aku ingin
kisahku seperti Fatimah, putri Rasulullah, dengan Ali. Aku ingin perahu perasaanku ini kelak kan terus melaju
menuju pelabuhan kasih sayangNya. Biarlah kami menempuh jalan kami
masing-masing. Semoga dia selau sehat
dan selalu dalam lindunganNya. Hingga akhirnya, cinta bisa bersujud di mihrab
taat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar