Assalamu’alaikum, wr. wb
Ini tulisan kedua yang ingin saya
‘tampilkan’ di blog saya. Maaf bila nantinya tulisan ini masih amatir dengan
kata-kata yang kurang pas dan ‘diletakkan’ dengan kombinasi yang salah. Saya
hanya ingin berbagi tulisan dengan sedikit pengetahuan yang saya miliki. J
Kali ini saya akan bercerita
tentang ‘virus’ merah jambu. Mungkin ada yang sudah mengerti, virus jenis apa
itu dan mengkontaminasi organ apa ditubuh. Mungkin ada juga yang berdecak, “virus
merah jambu? Apa pula itu?”. Pernyataan apapun tak salah, karna segalanya
merupakan argumen yang memang berhak untuk disampaikan.
Berbicara tentang cinta,
mengingatkan saya akan sebuah buku yang pernah saya baca. Buku yang sangat menarik.
Ada sebuah kata-kata yang saling tertaut indah, bernada lembut menyentuh jiwa,
dan membuat diri makin menghamba pada Sang Maha Perkasa.
Jadikan
cintaku padaMu Ya Allah
Berhenti
di titik ketaatan
Meloncati
rasa suka dan tak suka
Karena
aku tahu,
mentaatiMu
dalam hal yang tak kusukai
adalah
kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala
karena
seringkali ketidaksukaanku,
hanyalah
bagian dari ketidaktahuanku
Sungguh begitu lembut. Menegur
nurani yang terkadang lupa akan kekhilafan. Lupa bahwa ada cinta yang begitu
besar, suci, dan tiada duanya yang seharusnya lebih kita perjuangkan. Bukan
cinta yang menyita waktu dengan keterputus-asaan, kesedihan, hingga merelakan
waktu berlalu dengan cara yang sangat menyedihkan. Hanya merenungi, bahkan
mengutuk. Termasuk diri ini yang juga kadang khilaf akan kesalahan.
Cinta, satu kata penuh makna.
Berbagai kisah tercipta, penuh pengorbanan, dan butuh pengendalian. Cinta
mempunyai dua sisi yang berbeda, tergantung dari mana kita memulainya,
menjaganya, dan mengarahkannya. Cinta tak hanya sekedar rasa ketertarikan
semata karna cinta hanya dapat menyentuh dan terasa indah bila kita mampu
memberinya dengan tulus.
Jadi teringat kisah saya dan
teman saya dulu. Seorang teman yang sudah saya anggap sebagai saudari saya.
Saudari seiman dan seperjuangan. Dulu saya pernah ‘mengingatkannya’ tentang
cinta yang sedang ia ‘bina’. Cinta yang belum saatnya untuk diberikan. Bukan
karna pilih-memilih sasarannya, ini karna memang murni belum masuk waktu yang
diberkahiNya. Salahku juga wahai
saudariku, yang mungkin telah mencoba untuk ‘mengekangmu’. Tapi sungguh, aku
tak bermaksud seperti itu. Sungguh aku sangat sayang padamu, sehingga aku tak
ingin mebuatmu makin terjatuh. Mungkin memang diriku bukanlah orang yang pantas
untuk membimbingmu, karna memang diri ini masih banyak kesalahan. Namun,
salahkah aku bila aku mengingatkanmu? Mengingatkanmu akan janji kita dulu untuk
tetap teguh. Teguh dalam syariatNya dan teguh memegang prinsip kita. Yaaa,
hanya doa yang mampu aku panjatkan. Semoga Allah selalu membimbingmu dan tetap
menjaga hati kita untuk tetap memegang prinsip kita. Aamiin, Ya Rabbi..
Terkadang, mencintai tak harus
memiliki. Mencintai tak kenal akan perhitungan untung rugi. Mencintai berarti pengorbanan untuk
kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia
mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilahkan. Yang ini
pengorbanan.
Karna cinta, Rasulullah rela
untuk menyampaikan risalah untuk ummatnya dimuka bumi meski segala hujatan,
cacian, dan perkataan mengutuk selalu terlontar dari para jahiliyah. Dengan cinta,
seorang ibu rela untuk mengandung dan menyapih anaknya meski raga semakin rapuh.
Untuk cinta, dalam ukhuwah tak pernah saling menghitung pengorbanan yang telah
diberikan.
Semoga kita para hambaNya, tak
pernah rela kehilangan akan cinta dari Sang Maha Cinta. Semoga kita tak pernah
mau ketinggalan ‘kereta’ yang terus melaju menuju cinta sejati dariNya. Dan semoga
kita saling mencintai dalam dekapan lembut cinta dari Sang Maha Penyayang..
Aamiin, Ya Allah..
karena
bukan lagi saatnya jatuh cinta, tapi harus bangun cinta..
lau,nice post :)
BalasHapusjika bukan karena cinta,tak mungkin seorang sahabat berani mengingatkan sahabatnya akan komitmennya pada Alah,Sang pemilik cinta..